Menikmati Tante Dian Dengan Jilbab Longgarnya

x
0

Menikmati Tante Dian Dengan Jilbab Longgarnya ( Bagian 1 )


Godaan yang Tak Terlihat

Aku, Andi, 22 tahun, baru saja pindah ke rumah Tante Dian di pinggir kota. Kuliahku di universitas swasta membuat biaya kos terlalu mahal, dan Tante Dian — adik ibuku yang sudah janda lima tahun — langsung menawarkan kamar kosong di rumah mewahnya. “Tinggal di sini aja, Nak. Tante senang ada teman,” katanya waktu itu, suaranya lembut sambil tangannya merapikan jilbab longgar yang selalu dia pakai.

Tante Dian berusia 44 tahun, tapi tubuhnya seperti perempuan 30-an. Payudaranya besar dan kencang, pinggulnya lebar menggoda, kulitnya putih mulus. Yang paling bikin aku gila adalah jilbabnya. Bukan jilbab ketat seperti kebanyakan tante-tante di masjid. Jilbabnya selalu longgar, kainnya tipis, kadang melorot sedikit ke belakang sehingga rambut hitamnya yang bergelombang sedikit terlihat di dahi dan lehernya. Lehernya yang jenjang itu… astaga, setiap kali dia membungkuk mengambil sesuatu, jilbabnya ikut melorot dan aku bisa melihat garis leher yang halus serta sedikit belahan dada yang tersembunyi di balik kerah baju kurungnya.

Hari-hari pertama biasa saja. Aku kuliah pagi, pulang sore. Tante Dian kerja di rumah sebagai desainer baju muslimah online. Kami makan malam bareng, ngobrol ringan. Tapi semakin lama, aku semakin sering mencuri pandang. Malam itu, hujan deras. Listrik padam sebentar. Aku keluar kamar cari lilin, dan di ruang tengah aku melihat Tante Dian sedang berdiri di depan jendela. Jilbabnya agak longgar karena dia baru selesai mandi. Kainnya basah sedikit di bagian bahu, menempel di kulitnya. Aroma sabun mandi dan parfumnya yang manis langsung menyerbu hidungku.

“Andi… kamu belum tidur?” tanyanya pelan, suaranya agak serak. Dia menoleh, dan jilbabnya melorot lebih jauh. Aku melihat rambutnya yang basah, beberapa helai menempel di lehernya yang berkeringat tipis.

“Aku… cari lilin, Tante,” jawabku gugup. Mataku tak bisa lepas dari belahan dada yang sedikit terbuka karena baju tidurnya longgar.

Tante Dian tersenyum tipis. “Sini, Tante ambilkan.” Dia berjalan mendekat, dan saat itu jilbabnya benar-benar melorot ke bahu. Aku melihat kulit bahunya yang putih, dan bra hitam tipis yang menyangga payudaranya yang besar. Jantungku berdegup kencang.

Malam itu kami duduk di sofa, lilin menyala redup. Obrolan kami semakin dalam. Dia cerita tentang kesepiannya setelah suami meninggal. “Tante sudah lama nggak… deket sama laki-laki, Andi,” katanya sambil menatapku dalam-dalam. Tangannya tanpa sengaja menyentuh pahaku. Aku merasakan panas yang aneh.

Aku berani. Tanganku naik ke bahunya, merapikan jilbabnya yang longgar. Tapi jari-jariku sengaja menyentuh kulit lehernya. Dia menggigil. “Andi…” bisiknya. Itu bukan teguran. Itu undangan.

Kami berciuman pertama kali di sana. Bibirnya lembut, lidahnya panas dan lihai. Tanganku merayap ke dalam baju tidurnya, meremas payudaranya yang berat dan kenyal. Putingnya sudah keras. Tante Dian mendesah di mulutku, “Pelan… Tante suka yang pelan dulu…”

Aku membuka bajunya. Jilbabnya masih dipakai, hanya agak miring. Aku menjilat lehernya, turun ke belahan dada. Payudaranya keluar dari bra, puting cokelat muda yang menggoda. Aku mengisapnya bergantian sambil tanganku masuk ke celana dalamnya. Memeknya sudah basah sekali. “Tante… basah banget,” bisikku.

“Karena kamu, Nak… Tante sudah lama ngimpiin ini,” jawabnya sambil menggigit bibirnya.

Malam itu kami bercinta di sofa. Aku menidurinya perlahan. Kontolku yang keras masuk pelan ke memeknya yang panas dan licin. Jilbabnya tetap longgar di kepalanya, kainnya bergoyang-goyang setiap aku menghentak. “Ya… Andi… lebih dalam…” erangnya. Aku menyetubuhinya dengan lembut tapi kuat, tanganku meremas payudaranya, mulutku mencium leher dan bibirnya. Dia orgasme duluan, memeknya menggigit kontolku, tubuhnya gemetar. Aku menyemburkan sperma panas di dalamnya.

Kami berpelukan setelahnya. Jilbabnya masih miring, rambutnya acak-acakan. “Ini rahasia kita, ya?” katanya sambil mencium keningku.

 

Rahasia yang Semakin Panas

Sejak malam itu, hubungan kami berubah total. Setiap pulang kuliah, Tante Dian sudah menunggu dengan senyum nakal. Jilbab longgarnya semakin sering “tidak sengaja” melorot. Pagi hari, dia masak sambil memakai daster tipis, jilbab longgar, dan aku sering mendekapnya dari belakang, kontolku menekan pantatnya yang montok. “Tante… mau lagi?” bisikku. Dia hanya tertawa pelan dan membiarkan tanganku meremas payudaranya dari atas baju.

Kami bercinta hampir setiap hari. Kadang di dapur, kadang di kamar mandi, kadang di mobilnya saat malam. Aku suka saat jilbabnya tetap dipakai saat aku menyetubuhinya dari belakang. Kain longgar itu bergoyang-goyang mengikuti gerakanku, membuatnya terlihat semakin terlarang dan menggoda. “Tante suka jilbabnya tetap dipakai ya?” tanyaku suatu malam saat kontolku sudah dalam-dalam di memeknya.

“Iya… ini bikin Tante merasa… nakal,” jawabnya sambil mendesah. “Seperti tante baik-baik di luar, tapi di rumah jadi pelacur kecilmu.”

Kata-katanya membuatku semakin gila. Aku menyetubuhinya lebih kasar, tanganku menarik jilbabnya sedikit ke belakang agar lehernya terbuka lebar. Aku gigit lehernya sambil menghentak kuat-kuat. Dia orgasme berkali-kali, memeknya menyembur cairan bening yang membasahi paha kami berdua.

Tak Terduga

Sudah tiga bulan berlalu. Aku sudah benar-benar kecanduan Tante Dian. Tubuhnya, jilbab longgarnya, desahannya, semuanya. Suatu malam, setelah bercinta panas di kamarnya — kali ini dia naik di atasku, jilbab longgarnya bergoyang liar, payudaranya melonjak-lonjak — kami berbaring lelah. Aku memeluknya dari belakang, kontolku masih setengah tegang di dalam memeknya yang basah.

Tante Dian tiba-tiba diam. Napasnya pelan. Lalu dia berbalik, menatapku dalam-dalam. Jilbabnya sudah sangat miring, hampir jatuh.

“Andi… Tante harus bilang sesuatu,” katanya pelan. Suaranya serius, tapi ada senyum kecil di bibirnya.

“Apa, Tante?”

Dia menggigit bibir bawahnya. “Tante… bukan adik kandung ibumu.”

Aku terdiam. Jantungku berhenti sejenak.

“Apa maksudnya?”

“Ibu kamu dan Tante… bukan saudara darah. Dulu, ayahmu pernah… dekat dengan Tante. Sangat dekat. Bahkan sebelum ayahmu menikah dengan ibumu. Tante pernah jadi… simpanannya. Tapi ayahmu memilih ibumu. Tante lalu menikah dengan almarhum suami, tapi hati Tante nggak pernah lepas dari keluarga ini. Saat ibu dan ayahmu pindah ke luar negeri, Tante sengaja minta kamu tinggal di sini. Bukan karena kebaikan hati semata…”

Dia berhenti sebentar, tangannya mengusap pipiku.

“Aku sengaja pakai jilbab longgar setiap hari. Aku tahu kamu suka memandang leher Tante. Aku tahu kamu sering ngeliatin dada Tante. Semua ini… aku rencanakan dari awal, Andi. Aku ingin kamu. Aku ingin jadi milikmu. Bukan sebagai tante, tapi sebagai perempuan yang benar-benar mencintaimu. Dan sekarang… Tante hamil, Nak. Dua bulan. Anak kamu.”

Kata-kata terakhir itu seperti petir di siang bolong.

Aku terpaku. Hamil? Anakku?

Tante Dian tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca. “Kamu boleh marah. Boleh benci. Tapi Tante nggak bohong soal perasaan ini. Aku mencintaimu, Andi. Bukan karena nafsu doang. Aku mau kita punya keluarga kecil kita sendiri. Jauh dari semua orang.”

Ruangan hening. Hanya suara hujan di luar jendela.

Aku menatap wajahnya yang cantik, jilbab longgar yang masih miring di kepalanya, tubuh telanjangnya yang masih basah keringat dan cairan cinta kami. Aku seharusnya marah. Tapi yang kurasakan justru… kelegaan yang aneh. Dan nafsu yang semakin membara.

Aku menariknya ke dalam pelukanku, mencium bibirnya dalam-dalam.

“Kalau gitu… mulai sekarang, Tante Dian bukan tante lagi buat aku,” bisikku di telinganya sambil tanganku meremas payudaranya lagi. “Kamu adalah ibu dari anakku. Dan aku mau nikmatin kamu setiap hari… dengan jilbab longgarmu ini.”

Dia tertawa pelan di antara ciuman, lalu mendesah saat kontolku kembali mengeras di dalam memeknya.

“Ya… milikmu, Sayang. Semua milikmu.”

Malam itu kami bercinta lagi. Kali ini lebih dalam, lebih penuh perasaan, dan lebih liar. Jilbab longgarnya akhirnya jatuh ke lantai, tapi aku memungutnya dan memakaikannya lagi di kepalanya sambil menghentak memeknya yang basah.


Bagian 2 ==>>


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)