Rahasia Malam di Rumah Tante Rina

x
0

Rahasia Malam di Rumah Tante Rina


Pertemuan Tak Terduga

Aku baru saja lulus kuliah dan pulang ke kota kecil tempat aku dibesarkan. Orang tua sedang bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis, jadi selama dua bulan aku tinggal sendirian di rumah. Tapi ternyata, Tante Rina — adik ibuku yang baru berusia 38 tahun — memutuskan untuk “menjaga” aku selama orang tua pergi.

Tante Rina adalah tipe wanita yang selalu membuat pria menoleh. Tubuhnya padat, kulitnya kuning langsat, rambut hitam panjang yang biasa diikat longgar, dan senyumnya selalu punya arti ganda. Dia sudah cerai tiga tahun lalu, tapi penampilannya masih seperti wanita yang baru berusia awal tiga puluhan. Payudaranya besar dan kencang, pinggulnya lebar, dan setiap kali dia memakai daster tipis di rumah, aku sulit mengalihkan pandangan.

Malam pertama aku tinggal di sana, Tante Rina datang membawa makanan malam. “Kamu sudah besar ya sekarang,” katanya sambil tersenyum, matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah. “Dulu kecil suka main di pangkuan Tante, sekarang sudah tinggi sekali.”

Aku hanya bisa tertawa gugup. Malam itu, AC rumah rusak. Udara panas sekali. Tante Rina keluar dari kamarnya hanya memakai tank top longgar dan celana pendek satin yang sangat pendek. Dada bagian atasnya terlihat berkilau karena keringat. Dia duduk di sofa ruang tamu sambil kipas-kipas diri dengan majalah.

“Panasp ya, Nak?” tanyanya lembut. “Iya, Tan. Susah tidur.”

Dia menepuk sofa di sampingnya. “Sini, cerita-cerita sama Tante. Biar tidak kepanasan sendirian.”

Aku duduk di sebelahnya. Aroma sabun mandi dan parfum wanita dewasa langsung menyeruak. Kami mengobrol ringan tentang kuliah, pacar, dan kehidupan Tante setelah cerai. Suasana semakin hangat. Tangan Tante sesekali menyentuh lengan atau paha ku saat tertawa.

Tiba-tiba dia berkata pelan, “Kamu tahu nggak… Tante sudah lama nggak dekat sama laki-laki. Rasanya aneh ya, badan ini seperti… haus sentuhan.”

Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh, dan mata Tante Rina sudah berkabut. Bibirnya sedikit terbuka. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasakan napas hangat Tante di leherku ketika dia mendekat dan berbisik:

“Jangan bilang siapa-siapa ya… ini rahasia kita berdua.”


Sentuhan Pertama

Malam semakin larut. Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur. Tante Rina memindahkan posisinya, kini duduk lebih dekat hingga pahanya menempel di pahaku. Aku bisa merasakan kehangatan kulitnya yang lembut.

“Kamu pernah sama perempuan yang lebih tua?” tanyanya sambil jari-jarinya pelan mengusap lengan ku.

“Belum, Tan…”

Dia tersenyum nakal. “Tante bisa ajarin, kalau kamu mau belajar pelan-pelan.”

Tangan Tante turun ke dada ku, merasakan detak jantung yang semakin cepat. Lalu dengan gerakan lembut, dia menarik tali tank top-nya sendiri sedikit ke bawah, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan puting yang sudah mengeras karena udara malam yang dingin setelah keringat menguap.

Aku tidak bisa menahan diri lagi. Tangan ku terangkat, menyentuh kulitnya untuk pertama kali. Hangat. Lembut. Berat. Tante mengeluarkan desahan kecil ketika jemariku menyentuh puncak payudaranya.

“Pelan saja… Tante suka yang lembut dulu,” bisiknya di telingaku.

Malam itu kami tidak langsung melangkah terlalu jauh. Hanya sentuhan, ciuman di leher, dan tangan yang saling menjelajah dengan penuh rasa ingin tahu. Tante Rina mengajarkanku cara menyentuh wanita dengan sabar, cara mendengar napasnya, dan cara membuat tubuhnya gemetar.

Sebelum fajar menyingsing, dia mencium keningku dan berkata:

“Besok malam Tante tunggu kamu di kamar Tante ya… ada yang lebih enak dari ini.”


Bagian 2 ==>>


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)