Godaan Dibalik Jilbab Tante Silvi

x
0

Godaan Dibalik Jilbab Tante Silvi


Aku, Reza, 25 tahun, baru saja pindah ke kompleks perumahan mewah di pinggir kota karena kerjaan baru di perusahaan swasta. Rumah kontrakan kecil tapi nyaman, persis di sebelah rumah Tante Silvi. Dari hari pertama, aku sudah terpaku.

Tante Silvi berusia 42 tahun, tapi tubuhnya masih seperti wanita 30-an yang dirawat baik-baik. Tinggi semampai, kulit putih mulus, dan yang paling bikin aku susah tidur: jilbabnya yang selalu rapi, dipadukan dengan baju kurung longgar yang tak mampu menyembunyikan lekuk dada montok dan pinggul lebarnya. Senyumnya anggun, suaranya lembut, selalu memanggilku “Reza sayang” dengan nada yang bikin bulu kudukku merinding. Suaminya, Om Hasan, sering dinas ke luar negeri. Katanya bisnis impor-ekspor. Jadi rumah besar itu sering sepi, hanya ada Tante Silvi dan pembantunya yang pulang sore.

Setiap pagi aku melihat dia menyiram bunga di halaman. Jilbab putihnya berkibar pelan, rok kurungnya menempel di paha saat angin bertiup. Aku pura-pura menyapu teras hanya untuk bisa menyapa.

“Pagi, Tante. Bunga-bunganya cantik ya,” kataku suatu hari.

Tante Silvi menoleh, senyumnya melebar. “Pagi, Reza sayang. Kamu juga rajin sekali pagi-pagi sudah bersih-bersih. Tante suka lihat cowok muda yang rapi.”

Sejak itu, obrolan kecil jadi rutin. Aku mulai sering bantu dia. Angkat galon air, benerin lampu yang mati, sampai pasang rak baru di dapur. Setiap kali selesai, dia selalu menyodorkan teh hangat dan kue buatannya sendiri. Bau vanila dan parfum mawarnya bercampur, bikin kepalaku pusing nikmat.

Suatu malam hujan deras. Aku baru pulang kerja basah kuyup. Tante Silvi kebetulan sedang membawa belanjaan dari mobil. Aku langsung lari mendekat.

“Tante, biar aku bantu!”

Kami berlari masuk rumahnya. Pintu tertutup, ruangan hangat. Jilbabnya basah di ujung, beberapa helai rambut hitam panjangnya keluar. Aku tak bisa berhenti menatap.

“Reza… kamu basah sekali. Cepat ganti baju di kamar tamu, Tante ambilkan handuk,” katanya lembut.

Aku ganti baju dengan kaos longgar yang dia pinjamkan. Ketika keluar, Tante Silvi sudah ganti baju rumah. Baju kaos oversized dan celana pendek selutut. Untuk pertama kali aku melihat rambutnya tergerai setelah jilbab dilepas. Hitam legam, bergelombang sampai pinggang. Dada montoknya naik-turun pelan di balik kaos tipis. Putingnya samar terlihat.

“Maaf ya, Tante jarang pakai jilbab di rumah kalau sendirian,” bisiknya sambil tersipu. “Kamu… jangan bilang siapa-siapa ya.”

Aku mengangguk, tenggorokanku kering.

Malam itu kami ngobrol panjang di sofa. Dia cerita betapa kesepiannya. Om Hasan sudah tiga bulan tak pulang. “Tante butuh pelukan, Reza… bukan pelukan anak kecil. Pelukan pria dewasa yang bisa bikin tante merasa masih diinginkan.”

Tangan kami bersentuhan. Jari-jarinya lembut, dingin. Aku berani meremas pelan. Dia tak menarik tangan. Malah mendekatkan wajahnya.

Ciuman pertama terjadi begitu saja. Bibirnya manis, lembut, lidahnya malu-malu menyapa lidahku. Aku merasakan napasnya yang tersengal. Tangan Tante Silvi merayap ke dada ku, mencengkeram kaosku.

“Reza… tante sudah lama nggak begini,” desahnya di antara ciuman.

Aku tak tahan lagi. Kugendong tubuhnya yang montok ke kamar utama. Tempat tidur king-size, lampu temaram. Aku taruh dia pelan di kasur. Jilbabnya sudah tak ada, rambutnya tergerai indah di bantal.

Aku buka kaosnya. Bra hitam renda menyembunyikan dua bola dada besar yang putih. Putingnya cokelat muda, sudah mengeras. Aku hisap satu per satu, Tante Silvi mendesah panjang, tangannya meremas rambutku.

“Ahh… Reza sayang… pelan… tante suka yang lembut dulu…”

Aku turunkan celananya. Celana dalamnya sudah basah. Memeknya mulus, hanya sedikit bulu rapi di atas. Aku ciumi paha dalamnya, lalu lidahku menyusup ke celah basah itu. Tante Silvi menggeliat hebat, pinggulnya terangkat.

“Ya Allah… Reza… kamu jago sekali… tante hampir… ahhh!”

Dia orgasme pertama dengan tubuh bergetar hebat, cairannya manis di lidahku.

Aku tak tahan. Kontolku sudah keras banget. Aku naik, gesekkan kepala kontol di bibir memeknya yang licin. Tante Silvi memeluk leherku, matanya sayu di balik bulu mata tebal.

“Masukin, sayang… tante mau kamu isi tante sekarang…”

Aku dorong pelan. Memeknya sempit, hangat, dan basah sekali. Satu sentakan, kontolku masuk sampai pangkal. Tante Silvi menjerit kecil, kuku-kukunya mencakar punggungku.

“Kenceng… besar sekali… tante penuh banget…”

Aku ngentot dia perlahan dulu, lalu semakin cepat. Suara bedebuk kontolku memukul memeknya memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang-goyang indah. Aku hisap putingnya sambil terus menggenjot. Tante Silvi orgasme kedua, memeknya menyedot kontolku kuat-kuat.

“Aku mau keluar, Tante…”

“Di dalam aja… tante mau ngerasain panasnya…”

Aku menyemburkan sperma panas di dalam rahimnya. Kami berdua menjerit bersama. Tubuh kami basah keringat, saling peluk erat.

Kami berbaring diam lama. Tante Silvi mengelus dadaku.

“Reza… ini rahasia kita ya. Tante nggak mau kehilangan kamu.”

Aku tersenyum, mencium keningnya.

Tapi malam itu belum selesai. Setelah istirahat sebentar, Tante Silvi naik ke atas tubuhku. Rambut panjangnya menutupi payudaranya yang bergoyang saat dia naik-turun di kontolku yang kembali keras. Kali ini dia liar sekali. Pinggulnya berputar, memeknya menggiling kontolku dalam-dalam.

“Kamu suka tante yang begini? Yang berjilbab anggun di luar, tapi jalang di kasur?” bisiknya nakal.

Aku hanya bisa mengangguk, tanganku meremas bokongnya yang kenyal.

Kami ngentot lagi sampai subuh. Dua kali lagi. Posisi doggy, misionaris, dan terakhir dia minta aku keluar di mulutnya. Tante Silvi menelan semuanya sambil menatap mataku, lidahnya menjilat bibir dengan genit.

Plot Twist

Pagi harinya, saat matahari masuk lewat jendela, aku bangun dengan Tante Silvi masih tidur di pelukanku. Rambutnya acak-acakan, wajahnya damai. Aku tersenyum, merasa ini awal dari sesuatu yang indah.

Tapi saat aku hendak bangun untuk ke kamar mandi, mataku tertuju pada laci meja samping tempat tidur yang sedikit terbuka. Di dalamnya ada sebuah tablet. Layarnya menyala samar. Aku mendekat pelan.

Di layar itu… video.

Video kami semalam. Jelas sekali. Kamera tersembunyi di sudut langit-langit kamar. Aku melihat diriku menggenjot Tante Silvi, mendengar desahannya yang mengerang namaku.

Jantungku berdegup kencang.

Di samping tablet ada pesan WhatsApp terbuka dari nomor yang disimpan sebagai “Suami Tercinta”.

Pesan terakhir dari Om Hasan:

“Sayang, video malam ini bagus sekali. Reza benar-benar liar. Besok kirim lagi yang doggy ya. Aku sudah ngocor di hotel sambil nonton kalian. Jangan lupa suruh dia pakai jilbabmu pas ngentot besok malam. Aku suka banget lihat istriku yang anggun berjilbab jadi pelacur di depan kamera.”

Tante Silvi bergerak pelan di belakangku. Tangannya memeluk pinggangku dari belakang, payudaranya menempel di punggungku.

“Sudah lihat ya, Reza sayang?” bisiknya manis, tapi ada nada nakal yang baru aku dengar. “Tante nggak bohong waktu bilang tante kesepian. Tapi tante juga nggak bilang… bahwa suami tante suka nonton tante sama cowok muda. Dan tante… suka banget diperintah begitu.”

Dia mengecup tengkukku.

“Besok malam Om Hasan mau live call. Kamu mau bantu tante lagi kan? Atau… kamu mau berhenti sekarang?”

Tante Silvi tersenyum di bahuku. Jilbab putihnya tergantung di kepala ranjang, siap dipakai lagi.

Aku menelan ludah. Kontolku kembali mengeras di tangannya yang sudah merayap ke bawah.

Cerita ini… baru saja dimulai.


Bagian 2 ==>>


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)