Menikmati Tante Dian Dengan Jilbab Longgarnya ( Bagian 2 )
Kehidupan Baru Kami
Setelah pengakuan Tante Dian malam itu, suasana di rumah berubah total. Bukan lagi hubungan “tante dan keponakan”, melainkan hubungan dua orang dewasa yang saling memiliki. Aku tidak marah. Malah, pengakuan itu membuat aku semakin tergila-gila padanya. Ternyata semua godaan jilbab longgar, senyum malu-malu, dan tatapan nakalnya selama ini memang sengaja.
Pagi harinya, aku bangun dengan Tante Dian masih tertidur di sampingku. Jilbabnya sudah tidak terpakai, rambut hitam panjangnya tergerai di bantal. Perutnya yang masih rata terlihat damai. Aku usap pelan, membayangkan ada anak kami di dalam sana. Rasa tanggung jawab dan nafsu bercampur jadi satu.
Tante Dian terbangun, matanya langsung lembut saat melihatku. “Pagi, Sayang…” bisiknya. Suaranya masih serak karena semalam kami bercinta sampai subuh.
Aku langsung mendekat, mencium lehernya yang polos. “Pagi, Ibu dari anakku,” jawabku sambil tanganku merayap ke payudaranya yang terasa lebih penuh.
Dia terkikik pelan. “Sudah mulai nakal pagi-pagi…”
Kami bercinta lagi di pagi itu. Kali ini pelan dan penuh kasih. Aku menidurinya dari samping, kontolku masuk perlahan ke memeknya yang masih basah sisa semalam. Jilbab longgarnya aku ambil dari meja samping, lalu aku pasang kembali di kepalanya dengan sengaja. Kain tipis itu langsung melorot ke bahu saat aku mulai menghentak pelan.
“Tante… eh, Dian… jilbabnya jangan dilepas ya, biar tetap seperti dulu,” bisikku di telinganya.
Dia mendesah, “Iya… aku suka kalau kamu panggil aku Dian sekarang. Dan suka kalau jilbab ini tetap longgar… seperti pelacur rahasiamu.”
Kata-katanya membuatku semakin keras. Aku menyetubuhinya dengan ritme sedang, tanganku meremas payudaranya dari belakang sambil sesekali menarik jilbabnya agar lehernya terbuka. Kami orgasme hampir bersamaan. Aku menyemburkan sperma panas ke dalamnya lagi, meski dia sudah hamil.
Hari-hari berikutnya kami mulai menata kehidupan baru. Tante Dian semakin terbuka. Dia bilang, karena hormon kehamilan, nafsunya malah bertambah liar. Setiap sore pulang kuliah, aku selalu disambut dengan pemandangan yang bikin kontolku langsung tegang.
Suatu sore, aku pulang dan menemukan Tante Dian di ruang tamu sedang “bekerja”. Dia memakai baju kurung putih tipis, tapi jilbab longgarnya sengaja ditata agar selalu melorot di bahu. Saat aku masuk, dia sedang duduk di sofa dengan kaki sedikit terbuka. Celana dalamnya sudah diturunkan sampai mata kaki.
“Andi… cepat sini,” katanya sambil menggigit bibir. “Tante sudah basah dari tadi nungguin kamu pulang.”
Aku tidak buang waktu. Aku buka celana, kontolku sudah berdiri tegak. Tante Dian langsung merangkak mendekat, jilbab longgarnya bergoyang. Dia mengulum kontolku dengan lahap, lidahnya menari-nari di kepala kontol sambil matanya menatapku nakal. Jilbabnya melorot semakin rendah, membuat rambutnya terlihat acak-acakan.
“Enak, Sayang?” tanyanya sambil menjilat batangku dari bawah ke atas.
“Enak banget… jangan berhenti.”
Setelah cukup basah, aku angkat tubuhnya ke meja makan. Aku setubuhi dia sambil berdiri. Payudaranya yang semakin besar karena hamil aku remas kuat-kuat. Putingnya sudah lebih gelap dan sensitif. Setiap kali aku hisap, dia menjerit kecil kenikmatan.
“Lebih keras, Andi… Tante mau kasar hari ini,” pintanya.
Aku memenuhi permintaannya. Aku hentak memeknya dengan kuat, suara benturan kulit kami memenuhi ruangan. Jilbab longgarnya akhirnya jatuh ke lantai. Aku ambil lagi, lalu aku ikatkan longgar di lehernya seperti syal, sambil terus menggoyang pinggulku. Pemandangan itu sangat erotis: Tante Dian yang biasanya anggun, sekarang jadi perempuan liar dengan jilbab yang aku gunakan sebagai tali mainan.
Dia orgasme dua kali sebelum aku menyembur di dalamnya.
Rahasia yang Semakin Dalam
Semakin hari, Tante Dian semakin berani. Karena kehamilan baru memasuki bulan ke-3, perutnya masih belum terlalu kelihatan, jadi kami masih bisa menyembunyikan dari keluarga. Tapi di rumah, dia hampir tidak pernah memakai bra lagi. Payudaranya yang membesar selalu terlihat jelas dari balik baju tipis, putingnya menonjol menggoda.
Suatu malam, dia punya ide gila.
“Andi, besok malam Tante mau ajak kamu ke suatu tempat,” katanya sambil berbaring di dadaku, jari-jarinya mengelus kontolku yang masih setengah tegang.
“Ke mana?”
“Ke vila kecil Tante di Puncak. Cuma kita berdua. Tante mau kamu rekam kita bercinta… dengan jilbab longgar ini. Buat koleksi pribadi kita.”
Aku terkejut, tapi nafsuku langsung bangkit. “Rekam? Kamu yakin?”
“Iya. Aku mau lihat sendiri gimana wajahku saat kamu ngentot Tante pake jilbab ini. Aku mau kita punya kenangan sebelum perut Tante besar nanti.”
Akhir pekan itu kami pergi ke vila. Udara dingin Puncak membuat kulit Tante Dian semakin putih dan sensitif. Malam pertama di sana, dia memakai gaun tidur tipis hitam dan jilbab longgar favoritnya yang berwarna cream.
Kami mulai di depan perapian. Aku rekam dengan ponsel di tripod. Tante Dian berlutut di depanku, mengulum kontolku sambil menatap kamera dengan mata nakal. Jilbabnya sengaja aku buat melorot sampai bahu. Rambutnya tergerai, bibirnya basah karena air liurnya sendiri.
“Lihat… Tante lagi ngisep kontol keponakannya sendiri,” katanya ke kamera sambil tersenyum mesum. “Padahal di luar orang-orang pikir Tante ini perempuan saleha…”
Aku tidak tahan. Aku tarik dia berdiri, lalu tekuk tubuhnya di sofa. Dari belakang aku masukkan kontolku ke memeknya yang sudah banjir. Aku setubuhi dia sambil memegang kamera, merekam bagaimana jilbab longgarnya bergoyang-goyang liar setiap kali aku hentak.
“Bilang ke kamera siapa yang punya memek ini,” perintahku sambil menarik jilbabnya ke belakang.
“Memek ini punya Andi… Tante Dian cuma pelacur Andi sekarang…” erangnya.
Kami bercinta di berbagai tempat malam itu: di sofa, di depan cermin besar, bahkan di balkon vila saat hujan gerimis. Aku rekam semuanya. Yang paling panas adalah saat dia naik di atasku di kasur, jilbabnya sudah sangat longgar, payudaranya melonjak-lonjak, dan dia berteriak-teriak orgasme sambil memandang kamera.
“Cum di dalam lagi… isi Tante penuh…” pintanya.
Aku menyembur banyak sekali malam itu.
Keesokan paginya, saat kami sarapan di teras vila, Tante Dian tiba-tiba diam. Wajahnya agak pucat.
“Ada apa?” tanyaku khawatir.
Dia menghela napas panjang. “Andi… sebenarnya ada satu rahasia lagi yang Tante belum bilang.”
Aku menegang.
“Dulu… saat Tante bilang ayahmu pernah dekat dengan Tante. Sebenarnya… bukan cuma dekat. Tante pernah hamil juga waktu itu. Tapi keguguran. Ayahmu yang memaksa Tante aborsi diam-diam karena takut rahasia terbongkar. Itu sebabnya Tante sangat membenci ayahmu, tapi tetap mencintai keluarganya… termasuk kamu.”
Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku nggak mau anak kita mengalami hal yang sama. Makanya aku sengaja hamil sekarang. Aku mau kita punya keluarga sendiri. Tapi… ada satu hal lagi.”
Tante Dian menggenggam tanganku erat.
“Ibu kamu… sebenarnya tahu tentang hubungan Tante dan ayahmu dulu. Dan ibu kamu juga tahu bahwa aku sengaja minta kamu tinggal di sini. Dia nggak keberatan. Bahkan… dia pernah bilang ke Tante, ‘Kalau Andi suka sama kamu, biarkan saja. Dia lebih baik dapat kamu daripada perempuan lain yang nggak tahu latar belakang keluarga kita.’”
Aku terdiam lama. Ternyata seluruh keluarga ini punya rahasia yang rumit.
Tante Dian tersenyum tipis. “Jadi… kita nggak perlu takut. Kita bisa hidup bersama. Asal kita tetap rahasiakan dari orang luar.”
Aku tarik dia ke pangkuanku. Jilbab longgarnya kembali aku pasang di kepalanya.
“Kalau begitu, mulai sekarang kamu benar-benar milikku, Dian. Dan aku mau nikmati kamu setiap hari… sampai perutmu besar, sampai kamu melahirkan, dan setelah itu lagi.”
Dia menciumku dalam-dalam. “Iya, Sayang. Nikmati Tante Dian dengan jilbab longgarnya… selamanya.”
Malam itu di vila, kami bercinta lagi dengan lebih liar. Aku merekam video baru di mana Tante Dian berlutut di depan kamera, jilbab longgarnya melorot, dan dia berkata dengan suara mesum:
“Halo… ini Tante Dian. Mulai sekarang aku adalah ibu sekaligus istri rahasia Andi. Dan aku sangat suka dikentot sambil pakai jilbab longgar ini… Mau lihat caranya?”

.jpg)