Godaan Dibalik Jilbab Tante Silvi

Godaan Dibalik Jilbab Tante Silvi ( Bagian 2 )


Aku berdiri membeku di samping tempat tidur, tablet di tangan masih menyala. Video kami semalam diputar ulang dengan suara pelan. Desahan Tante Silvi yang lembut berubah liar saat aku menggenjotnya dari belakang terdengar jelas di speaker kecil itu.

Tante Silvi masih memelukku dari belakang, payudaranya yang telanjang menempel hangat di punggungku. Bibirnya menyentuh telingaku, suaranya seperti madu yang dicampur racun.

“Reza sayang… kamu marah?” tanyanya pelan, hampir seperti anak kecil yang ketahuan nakal.

Aku menoleh. Wajahnya masih cantik meski rambutnya acak-acakan. Mata sipitnya berkaca-kaca, tapi senyum kecil di bibirnya menunjukkan dia sama sekali tidak menyesal.

“Kenapa Tante nggak bilang dari awal?” suaraku parau.

Dia melepaskan pelukannya, lalu duduk di tepi kasur. Tubuh telanjangnya terpampang jelas di bawah cahaya pagi. Dada montoknya naik-turun pelan, putingnya masih agak mengeras karena udara dingin AC.

“Kalau Tante bilang dari awal, kamu pasti langsung kabur,” jawabnya jujur. “Tante suka kamu, Reza. Bukan cuma karena tubuhmu yang kuat atau kontolmu yang besar. Tante suka caramu memandang Tante seolah Tante adalah wanita paling cantik di dunia. Om Hasan… dia sudah lama nggak memandang Tante seperti itu. Dia lebih suka melihat Tante dari jauh, lewat kamera, sambil… ya, sambil memuaskan diri sendiri.”

Aku meletakkan tablet kembali ke laci. “Jadi… ini semacam permainan kalian?”

Tante Silvi mengangguk pelan. “Bukan permainan biasa. Ini sudah jadi bagian dari pernikahan kami selama hampir lima tahun terakhir. Om Hasan punya fetish cuckold yang sangat kuat. Dia suka melihat istrinya yang berjilbab anggun, yang di luar rumah selalu sopan dan dihormati, berubah jadi wanita liar di kasur. Dan Tante… Tante ternyata juga suka. Rasanya… membebaskan.”

Dia meraih tanganku, menarikku duduk di sampingnya.

“Tapi kemarin malam itu berbeda,” lanjutnya. “Biasanya Om Hasan yang memilih cowoknya. Kali ini Tante yang memilih sendiri. Tante pilih kamu karena… Tante benar-benar tertarik. Bukan cuma nafsu. Tante mau kamu datang lagi, bukan karena perintah suami Tante, tapi karena kamu mau.”

Aku diam lama. Otakku berantakan. Bagian diriku yang marah ingin segera pergi. Tapi bagian lain — yang masih merasakan kehangatan memeknya, aroma tubuhnya, dan desahannya yang manja — ingin tetap di sini.

Tante Silvi seolah membaca pikiranku. Dia naik ke pangkuanku, menghadapku, memeluk leherku erat. Kontolku yang setengah tegang langsung terjepit di antara perut kami.

“Kalau kamu mau berhenti, Tante nggak akan paksa,” bisiknya sambil mencium pelipisku. “Tapi kalau kamu mau lanjut… Tante janji akan buat kamu merasakan sesuatu yang nggak pernah kamu rasakan sebelumnya. Malam ini Om Hasan mau live call jam 11 malam. Dia ingin melihat Tante memakai jilbab lagi… sambil kamu ngentot Tante dari belakang. Tapi Tante boleh minta satu hal sama kamu.”

“Apa?” tanyaku, suaraku sudah mulai bergetar karena tangannya yang merayap ke bawah, meremas kontolku pelan.

“Tante mau kamu buat Tante merasa dicintai juga… bukan cuma dipakai. Meski ada kamera, meski ada suami Tante yang nonton… buat Tante merasa ini milik kita berdua juga.”

Aku menatap matanya lama. Lalu aku menciumnya. Ciuman yang dalam, penuh nafsu tapi juga ada kelembutan.

“Baiklah,” kataku di antara ciuman. “Tapi aku punya syarat juga.”

“Apa, sayang?”

“Aku nggak mau cuma main sekali dua kali. Kalau aku lanjut, aku mau Tante benar-benar jadi milikku juga. Bukan cuma di depan kamera.”

Tante Silvi tersenyum lebar, matanya berbinar nakal.

“Deal.”



Malam Itu

Jam 10.45 malam, aku sudah di kamar utama Tante Silvi. Lampu kamar sengaja diredupkan, hanya ada lampu tidur kuning keemasan. Tante Silvi sudah siap. Dia memakai jilbab putih bersih yang rapi, baju kurung tipis berwarna krem yang longgar di depan tapi ketat di pinggul. Di bawahnya, tidak ada apa-apa. Memeknya sudah licin lagi.

Kamera tersembunyi di empat titik sudah menyala. Om Hasan sudah connect via video call di layar besar TV kamar.

Suara Om Hasan terdengar tenang, berwibawa, seperti bos besar.

“Silvi sayang… Reza sudah datang?”

“Iya, Mas,” jawab Tante Silvi manja sambil menatap kamera. “Reza sudah nunggu di kasur.”

Aku duduk di tepi tempat tidur, hanya memakai boxer. Kontolku sudah setengah tegang melihat Tante Silvi yang berjilbab anggun tapi tatapannya penuh nafsu.

Om Hasan tertawa pelan. “Bagus. Reza, terima kasih sudah mau menemani istri saya. Silvi, kamu tahu apa yang Mas suka malam ini.”

Tante Silvi mengangguk patuh. Dia mendekatiku, berlutut di antara kakiku, lalu menurunkan boxer-ku. Kontolku langsung loncat keluar, sudah keras penuh.

“Wow… masih segar seperti semalam,” gumam Om Hasan dari layar.

Tante Silvi menatap kontolku dengan mata lapar. Dia mencium ujungnya dulu, lalu menjilat dari bawah ke atas dengan lidahnya yang panas. Setelah itu dia memasukkan ke mulutnya dalam-dalam. Kepala kontolku menyentuh tenggorokannya. Aku mendesah keras, tanganku meremas jilbabnya yang lembut.

Dia mengulumku dengan ahli, kepalanya naik-turun, air liurnya menetes ke bola kontolku. Sesekali dia menatap ke kamera, seolah memamerkan betapa dalam dia bisa menelan.

“Mas… kontol Reza enak sekali… tebal… panjang…” desahnya saat melepas sebentar.

Om Hasan bernapas berat. “Bagus, sayang. Sekarang berikan pantatmu ke Reza. Mas mau lihat jilbabmu bergoyang saat dia ngentot kamu dari belakang.”

Tante Silvi naik ke kasur, posisi doggy. Dia angkat rok kurungnya sampai pinggang, memperlihatkan bokong putih montoknya yang sudah terbuka lebar. Memeknya mengkilap basah, lubang kecilnya berkedut-kedut.

Aku tak perlu disuruh dua kali. Aku berdiri di belakangnya, memegang pinggulnya, lalu mendorong kontolku masuk perlahan. Satu sentakan kuat — plak! — kontolku tenggelam sampai pangkal.

“Ahhhhh…!” Tante Silvi menjerit manja, jilbabnya sedikit miring.

Aku mulai menggenjotnya. Lambat dulu, lalu semakin cepat. Suara benturan pinggulku ke bokongnya memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang-goyang di balik baju kurung. Jilbab putihnya ikut bergoyang setiap kali aku dorong dalam-dalam.

“Reza… lebih kenceng… tante suka yang kasar malam ini…” pintanya.

Aku tarik jilbabnya dari belakang seperti tali kekang, membuat kepalanya mendongak. Tante Silvi mengerang keras.

“Ya… tarik jilbab Tante… buat Tante jadi pelacur Mas Hasan…”

Om Hasan dari layar sudah terdengar sedang mengocok kontolnya. “Bagus… bagus sekali… Reza, remas dadanya… cubit putingnya…”

Aku patuh. Satu tanganku meremas payudara kirinya dari dalam baju, jari lain mencubit putingnya yang keras. Tante Silvi orgasme pertama malam itu dengan tubuh bergetar hebat, memeknya menyedot kontolku kuat-kuat.

Aku tak berhenti. Aku balik posisinya jadi misionaris. Jilbabnya masih terpasang, meski sudah agak longgar. Aku genjot dia sambil menatap matanya dalam-dalam. Kali ini bukan cuma nafsu. Ada sesuatu yang lebih.

“Silvi… kamu cantik sekali,” bisikku tulus.

Mata Tante Silvi berkaca-kaca. Dia memeluk leherku erat, kakinya melingkar di pinggangku.

“Reza… tante… tante suka kamu… ahh… jangan berhenti…”

Kami orgasme hampir bersamaan. Aku menyemburkan sperma panas jauh di dalam rahimnya sementara dia menjerit namaku. Tubuh kami bergetar lama.

Om Hasan juga keluar di layar, suaranya parau. “Terima kasih… kalian berdua luar biasa. Silvi, besok Mas mau yang lebih ekstrim lagi.”

Setelah panggilan selesai, Tante Silvi mematikan semua kamera. Dia memelukku erat, kepalanya di dada ku. Jilbabnya masih dipakai, tapi sudah basah keringat.

“Reza… tadi kamu bilang serius?” tanyanya pelan.

“Serius tentang apa?”

“Bahwa kamu mau Tante jadi milikmu juga.”

Aku mengelus rambutnya yang tergerai dari bawah jilbab.

“Iya. Aku nggak mau cuma jadi alat permainan kalian. Aku mau lebih.”

Tante Silvi tersenyum, tapi ada bayangan kekhawatiran di matanya.

“Kalau begitu… kita harus hati-hati. Om Hasan bukan orang sembarangan. Dia punya banyak koneksi. Tapi Tante… Tante juga sudah mulai jatuh cinta sama kamu, Reza.”

Dia mencium bibirku lembut.

“Besok Tante ada rencana. Kita akan buat pertemuan di luar rumah. Tanpa kamera. Hanya kita berdua. Tante mau tahu rasanya dicintai tanpa ada yang nonton.”

Aku mengangguk.

Tapi di dalam hati, aku tahu: ini baru awal dari permainan yang jauh lebih berbahaya.

Karena besok pagi, saat aku kembali ke rumah kontrakanku, aku menemukan sebuah amplop putih di bawah pintu.

Di dalamnya hanya ada sebuah foto polaroid: Tante Silvi sedang berlutut di depanku semalam, kontolku di mulutnya, jilbabnya masih rapi.

Di belakang foto itu tertulis dengan tulisan tangan:

“Kamu sudah masuk permainan, Reza. Selamat bermain. — H”


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)