Tergoda Tante Tia

Tergoda Tante Tia ( Bagian 2 )


Godaan Tante Tia – Rahasia yang Terungkap

Sensasi saat aku memasuki tubuh Tante Tia sungguh luar biasa. Kehangatannya yang lembut dan erat memelukku sepenuhnya. Aku bergerak perlahan, memberikan waktu bagi kami berdua untuk menikmati setiap detiknya. Tante Tia mendesah panjang, kedua tangannya memeluk punggungku erat, kuku-kukunya sedikit menekan kulitku.

“Ahh… Andi… pelan dulu… rasanya penuh sekali,” bisiknya dengan suara bergetar.

Aku mencium bibirnya lagi, kali ini lebih dalam dan penuh perasaan. Pinggulku bergerak ritmis, semakin dalam dan mantap. Setiap kali aku mendorong, Tante Tia mengeluarkan desahan lembut yang membuat gairahku semakin membara. Payudaranya yang indah bergoyang mengikuti irama gerakanku. Aku menunduk, menghisap putingnya bergantian dengan lembut, membuat tubuhnya semakin melengkung.

Tante Tia mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, menyambut setiap doronganku dengan penuh semangat. Kamar yang tadinya sejuk kini terasa panas oleh napas kami yang saling bercampur. Suara desahan kami berdua memenuhi ruangan.

“Andi… lebih cepat… Tante suka sekali…” pintanya dengan suara parau.

Aku mempercepat gerakanku. Tubuh kami saling bertautan dengan erat. Aku bisa merasakan dinding-dinding kehangatannya yang lembut terus berdenyut, semakin basah dan licin. Tante Tia tiba-tiba menjerit kecil, tubuhnya menegang hebat. Gelombang kenikmatan menerjangnya. Ia mencengkeram punggungku kuat-kuat sambil cairan hangatnya meluncur deras, membasahi pertemuan tubuh kami.

Aku tidak bisa menahan lebih lama. Beberapa dorongan terakhir yang dalam dan kuat membuatku juga mencapai puncak. Dengan erangan panjang, aku melepaskan seluruh hasratku di dalam kehangatannya yang lembut.

Kami berdua terbaring lemas, napas masih tersengal-sengal. Tante Tia memelukku erat, kepalanya bersandar di dada ku. Jari-jarinya mengusap punggungku dengan lembut.

“Terima kasih, Ndik… Tante belum pernah merasa sepuas ini dalam waktu yang sangat lama,” bisiknya sambil mencium pipiku.

Malam itu kami tidur saling berpelukan, tubuh telanjang kami masih saling menempel. Aku merasa bahagia sekaligus bingung. Ini adalah Tante Tia — adik ibuku sendiri. Tapi rasanya begitu alami, begitu hangat.



Keesokan harinya…

Pagi harinya aku terbangun karena aroma kopi dan sarapan yang menggoda. Tante Tia sudah rapi, mengenakan blouse longgar dan rok selutut yang tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Ia tersenyum manis saat melihatku turun ke meja makan.

“Pagi, sayang. Tante buatkan sarapan spesial. Kamu pasti capek semalam,” katanya sambil mengedipkan mata genit.

Kami sarapan bersama seperti pasangan biasa. Tante Tia banyak bercerita tentang masa lalunya, tentang betapa kesepiannya ia setelah suaminya meninggal. “Tante sudah lama tidak merasakan sentuhan kasih sayang seperti ini,” ujarnya pelan sambil memegang tanganku di atas meja.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan manis. Di siang hari aku membantu Tante Tia mengurus rumah dan kebun belakang. Di malam hari, kami menghabiskan waktu dengan intim yang semakin dalam. Kadang di kamar, kadang di sofa ruang keluarga, bahkan sekali di kolam renang belakang rumah saat malam hari.

Tante Tia ternyata sangat terbuka dan penuh gairah. Ia suka mengajarkanku berbagai cara untuk menyenangkannya. Aku belajar bagaimana menyentuhnya dengan lembut, bagaimana membuatnya mencapai puncak berkali-kali hingga tubuhnya gemetar hebat.

Semakin hari, aku semakin jatuh hati. Bukan hanya karena tubuhnya yang indah, tapi juga karena kelembutan dan perhatiannya padaku. Aku mulai berpikir, mungkin ini bukan sekadar nafsu. Mungkin ini sesuatu yang lebih dalam.

Tapi suatu malam, segalanya berubah.

Aku terbangun tengah malam karena haus. Saat turun ke dapur untuk mengambil air, aku mendengar suara Tante Tia berbicara pelan di ruang kerjanya. Pintu sedikit terbuka. Aku mendekat tanpa suara.

“Ya… dia sudah di sini. Andi sudah tinggal di rumah ini,” katanya di telepon dengan suara yang sangat pelan. “Semuanya berjalan sesuai rencana. Dia sudah jatuh cinta berat. Besok atau lusa aku akan minta dia menandatangani surat kuasa itu. Setelah itu, rumah ini, tanah-tanahnya, dan semua rekening akan mudah kita urus.”

Aku berdiri membeku di balik pintu. Jantungku berdegup kencang.

Tante Tia melanjutkan, “Tenang saja, sayang. Andi itu polos. Dia percaya Tante benar-benar sayang padanya. Begitu dia menandatangani, kita bisa jual semua aset orang tuanya dan kabur ke luar negeri. Kamu tunggu saja di Singapura.”

Telepon ditutup. Aku mundur pelan, tubuhku dingin seperti es.

Tante Tia bukan sekadar kesepian dan mencintaiku. Semua ini… adalah rencana yang sudah lama disusun.

Aku kembali ke kamar dengan hati yang hancur. Saat aku berbaring, Tante Tia berbalik dan memelukku dari belakang, tubuhnya menempel hangat seperti biasa.

“Tidur lagi, sayang…” bisiknya lembut di telingaku.

Aku memejamkan mata, tapi pikiranku berputar kencang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)